TUJUAN TERCAPAI, "KEHILANGAN SOSOK PAHLAWAN DEVISA"


REMIT MONEY INTERNATIONALLY


Disini kita akan membahas mengapa setiap Remitansi yang di terima negara Indonesia berbeda dengan setiap negara ASEAN dan 3 negara MAJU. Sebelum itu tentunya kita semua pernah bertanya-tanya bagaimana orang-orang mengirim uang masuk ke Indonesia sementara Bank disetiap negara berbeda dan mata uangnya pun berbeda pula ?  Disinilah kita bisa liat salah satu peran jasa pelayanan bank terhadap masyarakat adalah pelayanan jasa transfer mata uang (Remittance). Transfer (Remittance) adalah jasa mengirimkan uang dari pemilik rekening satu ke pemilik rekening lainnya atau pemilik rekening yang sama, dari satu wilayah ke wilayah lainnya, baik dalam satu negara maupun lintas negara, dalam mata uang rupiah maupun mata uang asing dengan biaya yang rendah.

Remit Money Internationally atau Remitansi ini sangat membantu para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) diluar negeri untuk mengirimkan uang kepada keluarganya yang berada di Indonesia dan bahkan TKI disebut pahlawan devisa adalah karena remitansi. Pasalnya, Remitansi dinilai menjadi salah satu sumber kekuatan bagi negara untuk kontribusi devisa. Selain itu, tentunya menjadi motor penggerak ekonomi di kampung halaman para TKI. The Global Knowledge Partnership on Migration and Development (KNOMAD) bahkan mencatat Indonesia termasuk dalam 10 besar negara dengan Remitansi terbesar.

Berikut ini adalah gambaran perbandingan arus masuk dan arus keluar Remitansi Indonesia dengan negara ASEAN dan 3 negara MAJU dalam kurun waktu 1 tahun (2019) :



Bisa kita liat dari tabel di atas menujukkan arus keluar dan arus masuk yang diterima negara ASEAN khususnya negara Indonesia dengan salah 3 dari negara MAJU. Disini fokus kita tertuju pada negara Indonesia saja, bisa kita liat secara jelas bahwa negara Indonesia ini mengalahkan beberapa negara ASEAN meliputi : Cambodia, Lao PDR, Myanmar, Philippines, Singapore, Vietnam, Timor Leste, dan Brunei Darussalam. Lantas timbul pertanyaan "Apakah Ini Salah Satu Prestasi ?", terlepas dari itu kita perlu berterimakasih kepada "Pahlawan Devisa" bagaimana tidak Remitansi Indonesia pada tahun 2019 merupakan yang terbesar dala kurun waktu 6 tahun terakhir dengan peningkatan US$ 7,57 miliar atau Rp. 105,94 triliun dengan selisih meningkat 42,47%, dengan catatan pengiriman jasa penitipan kepada orang yang dipercaya tidak dimasukkan yang menurut Bank Indonesia (BI) sebesar 7%. Sedangkan untuk 3 negara MAJU negara Indonesia lebih unggul dari sisi arus masuk mengalahkan negara Ireland, Netherlands dan Italy.

Peningkatan ini terjadi seiring dengan meningkatnya jumah penduduk dalam 5 tahun terakhir yang membuat pemerintah Indonesia tidak dapat mengantisipasi pelonjakan jumlah penduduk yang tiap tahunnya terus meningkat sehingga banyak warga negara Indonesia keluar mencari kerja diluar daerah bahkan diluar negara Indonesia sebagai akibat kurangnya lapangan kerja dengan harapan mendapatkan kesejahteraan dinegeri orang, padahal menjadi TKI diluar negara Indonesia memiliki banyak risiko salah satunya keamanan.  

Hal lain yang menjadi pertimbangan TKI yang keluar mencari kerja diluar Indonesia adalah upah atau gaji yang didapatkan di Indonesia yang menurutnya masih cukup rendah dan tidak dapat memenuhi kebutuhannya sehari-hari sehingga keluar dari negara Indonesia adalah jalan satu-satunya yang harus coba dilakukan.

Kemiskinan turun temurun juga menjadi salah satu penyebab keluarnya TKI dari negara Indonesia, kegagalan pemerintah dalam mensejahterakan masyarakatnya yang tertuang didalam UUD 1945 pada alinea ke-IV turut menajdi penyebab banyaknya tenaga kerja dalam negeri keluar mencari kesejahteraan diluar negeri, namun disini saya secara khusus melihat pada permasalahan ini, pemerintah yang menjadi benalu pada masyarakatnya bukan sebaliknya, bahwa kesejahteraan masyarakat adalah salah tanggung jawab pemerintah, bagaimana tidak dilihat dari tabel diatas sumbangsih TKI yang bekerja diluar negara Indonesia cukup besar kontribusinya pada devisa negara, padahal jika kita melihat dibelakang hal ini terjadi dikarenakan kegagalan suatu produk tujuan pemerintah namun menjadi salah satu "solusi" peningkatan devisa. Lantas timbul lagi pertanyaan saya bagaimana suatu saat negara Indonesia mampu menampung seluruh tenaga kerja baik yang didalam negeri maupun diluar negeri, apakah pemerintah akan rugi bahwasanya salah satu sumbangsih terbesar pada devisa akan hilang, atau TKI yang diluar negeri ini perlu "dipelihara" sehingga terus menjadi salah satu sumbangsih devisa negara ?

Tujuan Tercapai, Kehilangan Sosok Pahlawan Devisa
 
















Komentar

Postingan populer dari blog ini

TUGAS PEREKONOMIAN INDONESIA

APA ITU EKONOMI POLITIK? DEFINISI DAN KARAKTERISTIK