PASAR UANG DI INDONESIA
Indonesia, disebut juga
dengan Negara kesatuan Republik Indonesia adalah negara di Asia Tenggara yang
dilintasi garis khatuistiwa dan berada diantara daratan benua Asia dan
Australia, serta antara Samudra Pasifik dan Samudra Hindia, yang menjadikan
letak negara Indonesia menjadi strategis dalam dunia perdagangan. Dalam hal ini
Indonesia mampu menarik perhatian dunia dan mampu bersaing dengan negara-negara
berkembang hingga negara maju lainnya, sehingga berpengaruh pada perekonomian Indonesia
itu sendiri. Pada pembahasan kali ini penulis akan menekan beberapa hal yang
berkaitan dengan “Pasar Uang Di Indonesia”
Sebelum kita melangkah
jauh sebaiknya kita mengetahui ap aitu pasar. Pasar adalah salah satu dari
berbagai sistem, institusi, prosedur hubungan social dan infrastruktur tempat
usaha menjual barang, jasa dan tenaga kerja untuk orang-orang dengan imbalan
uang. Sedangkan menurut para ahli dibidang pemasaran, seperti yang dikemukakan oleh
Kotler (1997), mengenai definisi pasar adalah “ Pasar yaitu terdiri dari semua
pelanggan potensial yang memliki kebutuhan atau keingingan tertentu yang sama,
yang mungkin bersedia dan mampu melaksanakan pertukaran untuk memuaskan
kebutuhan dan keinginan itu”. Pasar (dalam arti luas) adalah tempat perjumpaan
antara pembeli dan penjual, di mana barang/jasa atau produk dipertukarkan
antara pembeli dan penjual. Ukuran kerelaan dalam pertukaran tersebut biasanya
akan muncul suatu tingkat harga atas barang dan jasa yang dipertukarkan
tersebut (Ehrenberg dan Smith 2003). Pasar terbentuk dari proses pertemuan
sampai terjadinya kesepakatan. Pasar tersebut tidak memperdulikan tempat dan
jenis barang. Jadi pasar tidak terbatas pada suatu lokasi saja (Rasyaf, 1996).
Pasar mempunyai lima fungsi utama. Kelima fungsi utama tersebut menurut
Sudarman (1989) adalah:
1.
Pasar menetapkan nilai (sets value). Dalam ekonomi pasar,
harga merupakan ukuran nilai;
2.
Pasar mengorganisir produksi. Dengan adanya harga-harga
faktor produksi dipasar, maka akan mendorong produsen (entrepreneur)
memilih metode produksi yang efisien;
3.
Pasar mendistribusikan barang. Kemampuan seseorang untuk
membeli barang tergantung pada penghasilannya;
4.
Pasar berfungsi menyelenggarakan penjatahan (rationing).
Penjatahan adalah inti dari adanya harga;
5.
Pasar mempertahankan dan mempersiapkan keperluan di masa yang
akan datang.
Negara-negara yang telah
maju maupun negara berkembang, menghadapi masalah dalam memelihara kestabilan
ekonomi serta masalah pertumbuhan ekonomi. Masalah kestabilan ekonomi ini lebih
bersifat jangka pendek, sedang masalah pertumbuhan ekonomi seperti pendapatan
nasional maupun kesempatan kerja lebih merupakan masalah jangka panjang.
Kebijakan moneter dan fiskal yang ditujukan untuk memelihara kestabilan
ekonomi, terutama kestabilan harga menyangkut beberapa aspek dan kaitan
berbagai variabel makro. Dari segi kebijakan moneter berbagai variabel dan
tindakan kebijakan saling berkaitan satu sama lainnya, seperti kebijakan suplai
uang, tingkat bunga, perbankan serta kebijakan moneter internasional dalam
mekanisme penentuan kurs atau valuta asing. Disamping itu kebijakan fiskal yang
merupakan kebijakan di bidang anggaran belanja dan pendapatan negara juga
berpengaruh disini. Saat ini keberadaan pasar uang tidak lagi dibatasi hanya di
wilayah suatu negara saja akan tetapi, uang kini berputar secara terus menerus
ke seluruh bagian di dunia. Pertumbuhan dan perkembangan perdagangan dunia
internasional membutuhkan pembiayaan jangka pendek dan jangka panjang, sehingga
kehadiran pasar modal dan pasar uang saat ini menjadi sebuah sarana untuk
menghimpun dana dan sebagai media pembiayaan usaha makro maupun mikro dalam
perekonomian suatu negara. Keberadaan pasar modal dan pasar uang telah membantu
dalam penyediaan dana untuk jangka menengah dan jangka panjang guna menunjang
pembangunan dan pengembangan dunia usaha.
Pasar keuangan Indonesia mengalami pemulihan yang mencengangkan
dari kondisi Krismon pada akhir tahun 1990-an. Kebijakan fiskal yang bijaksana
dan fundamental ekonomi yang makin kuat berhasil mendorong pertumbuhan ekonomi
yang kokoh sejak tengah tahun 2000-an (meskipun pertumbuhan ekonomi global yang
lambat dan harga komoditas yang rendah menyebabkan sebuah slowdown di perekonomian Indonesia pada tahun
2011-2015). Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) - indeks pasar
saham utama yang mencakup semua perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek
Indonesia (BEI) maka dapat dianggap sebagai indikator utama kinerja pasar
keuangan Indonesia - telah mengalami pertumbuhan yang substansial dari tahun
1999 hingga kini. IHSG ini mengalami rekor terendah pada tahun 1998 di tengah
krisis ekonomi dan mencapai rekor tertinggi pada Januari 2018. Pemerintah
pusat Indonesia adalah penjual obligasi terbesar di Indonesia (biasanya dengan
tujuan untuk membiayai APBN), baik kepada investor lokal maupun asing.
Obligasinya termasuk obligasi konvensional, ritel dan obligasi syariah (Sukuk).
Bank sentral Indonesia (Bank Indonesia) menjual Sertifikat Bank Indonesia
(SBI). Meskipun obligasi pemerintah dan korporasi tercatat di Bursa Efek
Indonesia, instrumen ini biasanya diperdagangkan over-the-counter. Kini Indonesia telah mendapatkan
kepercayaan dari tiga lembaga pemeringkat kredit internasional yang utama. Pada
akhir tahun 2011 Fitch Ratings adalah yang pertama dari lembaga-lembaga
tersebut yang mengembalikan status investasi (investment grade status) kepada Indonesia setelah terputus selama 14
tahun. Pada bulan Januari 2012 Moody's Investors Service mengikuti langkah ini
mendasarkan kinerja ekonomi Indonesia yang tangguh. Akhirnya, pada Mei 2017,
Standard & Poor's juga menaikkan status Indonesia menjadi investment grade.
Diasumsikan bahwa level layak investasi ini memicu aliran modal masuk yang
lebih besar ke dalam Indonesia karena sejumlah fund global hanya boleh
investasi di negara investment grade saja. Secara keseluruhan, status layak
investasi meningkatkan kepercayaan investor terhadap fundamental ekonomi
Indonesia.
Namun suatu hal yang penting yaitu ekspansi ekonomi
itu akan disertai pendalaman pasar modal. Saat ini pasar-pasar modal di
Indonesia lebih kecil dan kurang likuid dibandingkan negara ASEAN lain dan
negara berkembang lain. Ini disebabkan kerendahan penggunaan pasar modal untuk
membiayai investasi dan keterbatasan intermediasi oleh lembaga keuangan yang
non-bank (hedging dan fasilitas asuransi yang kurang memadai). Pasar efek dan
pasar ekuitas hingga kini (relatif) kurang dikembangkan dan kapitalisasi pasar
perusahaan-perusahaan yang terdaftar di BEI lebih rendah dibandingkan
perusahaan terdaftar di negara-negara lain di Asia Tenggara. Sisi positif dari
situasi ini adalah bahwa Indonesia masih memiliki ruang yang cukup luas untuk
tumbuh. Untuk memperdalam pasar modal Indonesia, juga penting bahwa sektor
perbankan nasional berkembang lebih cepat. Saat ini, melek finansial penduduk Indonesia dan penetrasi
perbankan (konvensional maupun syariah) tetap pada tingkat yang relatif rendah.
Berdasarkan data dari Bank Dunia, kurang dari 40 persen dari populasi orang
dewasa di Indonesia memiliki rekening bank. Seksi ini terfokus pada pasar-pasar
keuangan dan modal Indonesia dan bertujuan memberikan wawasan dalam struktur
pasar-pasar ini. Selain itu, bagian ini juga berisikan informasi yang memadai
mengenai cara berpartisipasi di pasar keuangan Indonesia.
Komentar
Posting Komentar